Do you want to build a Snowman?

Catatan: Tulisan ini, sebenarnya saya tulis tahun 2014 yang lalu, but since it's one of my favorites, izinkanlah saya untuk membagikannya kembali bagi Anda


Sudah hampir 1 tahun yang lalu Eitel nonton film FROZEN untuk pertama kalinya, namun sampai dengan saat ini, ia masih saja sering memutar lagi film tersebut.

Her Favorite is Elsa, Ratu cantik, yang tegas dan berwibawa, yang punya kekuatan salju. Saya punya favorit Saya sendiri. Olaf, si Boneka Salju. Setiap kali memandang wajah Olaf saya kembali tersenyum. Bukan sekedar karena wajah dan ekpresinya yang lucu, tapi lebih karena nilai-nilai yang secara tidak langsung disampaikan melalui kehadirannya di Film Frozen. Menemani Eitel menonton film-film kesukaannya memang seringkali membawa inspirasi, bukan hanya sekedar untuk kehidupan Saya secara pribadi, namun juga dalam kehidupan Saya bekerja di organisasi.

Lewat Olaf, ada beberapa tips yang saya temukan:

1. Jadilah orang yang hangat

“Hi, everyone. I'm Olaf and I like warm hugs!”,

Kata-kata perkenalan dari Olaf itu mengingatkan saya bahwa dalam pekerjaan kita seringkali tidak bisa kita lakukan dengan tangan besi, tidak bisa “yang penting kerjaan gw beres”, bekerja seringkali membutuhkan pendekatan personal, ada banyak orang-orang di sekeliling kita yang butuh ‘a warm hugs’. Semakin kita dingin, dan semaunya kita sendiri, semakin kita tidak bisa mencapai tujuan kita bersama. Keramahan dan kesediaan membantu orang lain sangat diperlukan, apalagi bagi kita yang bekerja di department yang bernama HRD, bagaimana ‘kehangatan’ kita kepada karyawan lain akan sangat menentukan kelancaran proses selanjutnya. Selama kita bersikap cuek, pasif dan dingin, selama itulah kita sulit untuk maju dan mencapai tujuan.



2. Terbukalah untuk hal-hal baru yang belum kita ketahui

Olaf: Summer?

Anna: M-hm.

Olaf: Oh, I don't know why, but I've always loved the idea of summer, and sun, and all things hot...

Kristoff: Really? I'm guessing you don't have much experience with heat.

Olaf: Nope!

Yah, Olaf memang tokoh kartun, dalam dunia nyata tidak ada, tapi ia mengingatkan Saya kembali untuk tetap tersenyum, untuk tetap positive thinking dalam menghadapi berbagai hal. Termasuk dalam menghadapi hal-hal baru yang tidak pernah Saya alami sebelumnya. Waspada itu harus, tapi khawatir jangan. Hati-hati itu harus, tapi takut jangan. Kita harus bisa menghadapi tantangan-tantangan di dalam pekerjaan kita secara terbuka. Jangan serba negative dan resistant duluan. Jika kita hanya mengerjakan, dan hanya mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sudah bisa kita lakukan, niscaya kompetensi kita akan berhenti sampai disitu, namun jika kita menyediakan diri untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang belum pernah kita kerjakan sebelumnya, niscaya kompetensi kita akan bertambah, minimal pengetahuan kita yang akan bertambah mengenai hal apa yang bisa kita lakukan, dan hal apa yang bukan bakat kita.

Percayalah bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya, dan hadapilah dengan senyuman. Semanis senyuman olaf :)



3. Believe the unbelievable

Olaf: [singing] Winter's a good time to sit close and cuddle / But put me in summer and I'll be a... [pauses in front of a puddle]

Olaf: ... happy snowman!

Saya berpikir, jika dulu Wright bersaudara kukuh menggunakan prinsip SMART (Spesific, Measurable, Attainable, Realistic, and Time Frame) dalam menetapkan target mereka, mungkin kita tidak akan pernah menemukan pesawat sampai dengan sekarang. Sometimes to implement the innovation value, kita harus berpikir out of the box, sometimes terkesan tidak realistis, sometimes terlalu mengawang-awang, tapi itulah innovation!

Saya masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, waktu Saya share mengenai visi hidup Saya kepada Ellen, my roommate. Dengan gaya dramatic Saya, Saya berkata: “Ellen, visi ini begitu besar, sampai-sampai Saya merasa tidak bisa memuatnya.”

Lalu dengan santai, gadis mungil bersuara besar di hadapan Saya itu menjawab. “Ya kak, that’s vision”.

Visi itu bukanlah visi jika kita masih bisa merasa dengan mudah mencapainya!

Penemu-penemu hebat adalah mereka yang dicemooh orang sebagai pemimpi-pemimpi. Sometimes we need unrealistic target to breakout our limit. Untuk menjadi orang yang luar biasa, kita harus mempercayai hal-hal yang luar biasa. Untuk menjadi organisasi yang maju, kita harus berpikir lebih maju, one step ahead dibandingkan dengan orang lain, jika kita terus berjejak pada apa yang kita bisa, apa yang kita miliki sekarang, kita tidak akan pernah menjadi market leader. Kita juga harus melihat from the opposite view, apa yang diharapkan principal? apa yang dibutuhkan customer? bagaimana perkembangan para competitor? Tanpa innovasi, kita akan tergilas!



4. Rela mengorbankan kepentingan pribadi atau departemen demi kepentingan organisasi yang lebih besar

Anna: Olaf! You're melting!

Olaf: Some people are worth melting for. [begins to melt, grabs his face to stay up]

See the things around us that we worth melting for! Coba tarik kepala kita sejenak ke atas, untuk melihat lebih global, bukan hanya kepentingan diri kita sendiri, bukan hanyak kepentingan department kita sendiri, namun kepentingan keseluruhan organisasi.

Ya, ada kalanya kita memang harus berkorban, untuk tujuan yang lebih besar, kadang-kadang kita harus menyesuaikan diri dengan cara kerja yang baru, merubah cara pikir, merubah kebiasaan. Semuanya itu sungguh tidak enak, tapi harus dilakukan demi maju dan berkembangnya organisasi.

Seringkali kita tidak bisa maju karena kita play safe, cari aman, menghindari konflik, tidak mau ambil resiko untuk diri kita pribadi, padahal dengan melakukan hal itu, kita dapat tanpa sadar merugikan organisasi.

As a Manager, Saya juga kadang melakukannya, untuk melindungi ‘anak-anak’ Saya dari ‘tambahan kerjaan’, Saya seringkali kekeuh untuk menolak menerima tanggung jawab/project yang diberikan, tanpa sadar bahwa tingkah Saya itu dapat menghambat laju organisasi.

Namun (From Olaf) sekarang Saya belajar melihat lebih jelas, sometimes we must to melt for something that worth to melting for.



5. Sometimes, it’s not the world that upside down, but the way we see it ;)

Olaf: [His head is upside down] What am I looking at here? Why are you hanging from the earth by your feet like bats?

Bukan dunianya yang terbalik, tetapi bagaimana cara kita memandangnya.


Untuk bagian ini, silahkan Anda uraikan sendiri ;)



“Hi Olaf, my name is Milka, and I like warm hugs too!”


Double Cheers

Milka Santoso